Berita Teknologi Bisnis & Startup Kasus Pembobolan Keamanan Terkait IoT di Asia Pasifik Meningkat

Kasus Pembobolan Keamanan Terkait IoT di Asia Pasifik Meningkat

2
BERBAGI

Jakarta – Demam Internet of Things (IoT) telah melanda Asia Pasifik, di mana puluhan ribu ‘benda-benda’ terhubung, entah itu monitor pasien, sisktem penerangan jalan cerdas, atau kamera pengawas, masuk ke dalam kehidupan dan tempat kerja kita. Namun, saat kita mencoba mengikuti perkembangan perangkat cerdas.

Keamanan IoT mungkin merupakan konsep baru bagi banyak orang, namun hal ini telah menjadi masalah yang nyata. Dari 1.150 responden di wilayah Asia Pasifik yang disurvei oleh Aruba, anak perusahaan Hewlett Packard Enterprise, 88% melaporkan telah mengalami pembobolan keamanan terkait IoT.

Di seluruh industri, seperti pemerintahan, kesehatan, manufaktur dan ritel, ada ribuan kasus penggunaan yang bergantung pada teknologi IoT, dan masing-masing menuntut suatu jenis perangkat yang berbeda, yang kemungkinan membutuhkan protokol keamanan yang berbeda. Pada akhirnya, hal ini menciptakan ancaman yang tiada henti.

Untuk memiliki kendali yang kuat terhadap keamanan perusahaan, kita harus dapat melihat perangkat-perangkat tersebut dan koneksi mereka agar dapat melindungi mereka secara efektif. Berikut adalah daftar empat industri teratas yang paling banyak mengalami pembobolan terkait IoT dan bagaimana IoT diterapkan di masing-masing industri.

Sebelum tahun 2019, 87% perusahaan layanan kesehatan di seluruh dunia akan mengadopsi strategi IoT. Monitor pasien dan sistem pencitraan merupakan beberapa perangkat IoT yang paling banyak digunakan, yang memungkinkan layanan bernilai tambah, seperti pelacakan pasien dan pengoperasian perangkat jarak jauh.

Meski hal ini membawa manfaat signifikan bagi kesejahteraan pasien, ketakutan akan keamanan senantiasa membayangi. Tahun lalu saja, hampir 6.000 video bayi baru lahir yang sakit dari sebuah rumah sakit di Tiongkok bagian timur, yang dimaksudkan bagi para orang tua agar dapat memantau situasi bayi mereka, bocor ke publik dan informasi-informasi sensitif dibobol.

“Ini bukan peristiwa yang terjadi hanya satu kali. Hampir separuh (49%) perusahaan layanan kesehatan melaporkan masalah malware pada perangkat mereka dan 39% melaporkan bahwa kesalahan manusia menyebabkan pembobolan keamanan terkait IoT,” kata Justin Chiah, Director and General Manager, Asia Tenggara dan Taiwan, Aruba dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Kamis (12/10).

Saat menambahkan elemen baru ke infrastruktur kota, pemerintah harus menyeimbangkan teknologi baru dan lama. Dalam kasus IoT, hal ini berarti pemerintah harus berurusan dengan kemelut antara teknologi lawas dan jaringan yang cukup aman untuk menciptakan kota cerdas (smart city), dan 49% pegawai pemerintahan menganggap ini sebagai suatu tantangan tersendiri.

Pemerintah semakin tertinggal dalam kemajuan IoT mereka dibandingkan dengan industri lainnya. Sebanyak 35% pengambil keputusan TI di pemerintahan mengklaim bahwa para pemimpin hanya memiliki sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali pemahaman tentang IoT.

Kurangnya pemahaman ini, dikombinasikan dengan keterbatasan teknologi lawas di dalam kota dan risiko keamanan yang terkait dengan implementasi IoT, merupakan tantangan besar bagi perkembangan kota cerdas yang lebih luas.

Sektor industri memahami pentingnya mengotomatisasi rantai pasokan, dan bagaimana hal tersebut dapat menghadirkan efisiensi operasional dan margin keuntungan yang lebih sehat.

Negara-negara seperti India dan Vietnam telah berada di puncak revolusi industri keempat, yang akan menyebabkan bangkitnya pabrik-pabrik pintar, yang dilengkapi dengan IoT, komputasi cloud dan sistem cyber-physical.

Untuk mewujudkan hal ini, para pelaku industri manufaktur perlu mengamankan jaringan dan perangkat mereka. Namun, tidak demikian kenyataannya. Dari seluruh perusahaan manufaktur yang mengalami pembobolan keamanan terkait IoT, separuhnya terkait dengan malware, sedangkan 40% disebabkan oleh kesalahan manusia. Kesenjangan ini perlu ditutup, terutama karena perusahaan manufaktur menghubungkan perangkat seperti sensor-sensor kimia dan sistem pengambilan (picking) guna mengurangi risiko operasional dan menjaga infrastruktur operasi.

Lebih dari separuh (56%) pebisnis ritel yang telah menerapkan IoT di toko-toko mereka mengizinkan perangkat mobile pribadi untuk mengakses jaringan guna meningkatkan pengalaman konsumen. Mal 313@Somerset di Singapura, yang terletak di kawasan perbelanjaan Orchard Road yang populer, memiliki sebuah aplikasi yang akan memberi tahu pembeli tentang promosi-promosi yang berlangsung saat para pembeli melewati toko-toko tertentu, yang dimungkinkan oleh teknologi positioning indoor berbasis beacon dan IoT.

Namun, memperhitungkan 41% pebisnis ritel yang telah menderita kerugian akibat serangan terkait IoT karena masalah malware, jelas bahwa para pebisnis tersebut perlu menemukan jalan tengah antara memberikan pengalaman berbelanja yang terpadu dan mulus dengan melindungi jaringan mereka dari serangan apa pun.

Visibilitas Jaringan

Di seluruh industri tersebut di atas, lanjut dia, perusahaan-perusahaan memerlukan lebih banyak informasi tentang perangkat-perangkat yang terhubung ke jaringan mereka. Para manajer jaringan memerlukan kemampuan untuk membuat kebijakan dan izin-izin terkait jaringan mereka, sehingga jika suatu perangkat disusupi, baik oleh malware atau kesalahan manusia, hal itu dapat segera diidentifikasi dan dihapus dari jaringan yang lebih luas.

“Baru-baru ini, kami memperlihatkan bagaimana analisis data secara live dapat menunjukkan dengan tepat perangkat mana yang telah bergabung ke jaringan, kapan dan dari mana, guna menentukan tingkat ancaman keamanan perangkat tersebut. Setiap kali kami berbicara dengan para pelanggan, dari industri mana pun, kami selalu mendengar hal yang sama: setiap orang ingin mampu menyesuaikan sepenuhnya bagaimana mereka mendekati jaringan sambil tetap aman,” katanya.

Untuk mencapai hal tersebut, jaringannya harus benar-benar transparan. Ketika dianalisis dan diakses, informasi yang dikumpulkan harus memungkinkan perusahaan untuk lebih terperinci dalam menentukan dan mengamankan perangkat dengan tingkat ancaman yang berbeda, sambil memberikan tingkat akses yang berbeda kepada pengguna yang berbeda.

“Penerapan IoT di dalam perusahaan-perusahaan di wilayah Asia Pasifik telah terjadi, dan pertumbuhan penggunaannya di semua industri tidak dapat dihindari. Perusahaan seharusnya tidak membiarkan ancaman keamanan menjadi penghalang antara menjadi perusahaan yang memimpin pasar atau perusahaan yang tidak bersaing, terutama karena terdapat solusi-solusi yang tersedia untuk mengubah IoT menjadi peluang, dan bukan ancaman,” jelasnya.




Investor Daily

BACA DI BERITASATU

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here